3 Problem Jakarta Terparah Selalu Menghantui

Jakarta dari tahun ke tahun selalu dihadapkan problem yang tak pernah kunjung ada solusi cepat terselesaikan. Ini karena memang dari faktor tertentu yang harus memerlukan penanganan khusus agar bisa minimal dicegah kalau tidak bisa dihentikan. Persoalan ini hendaknya dijadikan agenda yang harus cepat-cepat disegerakan karena belum tentu hanya butuh waktu yang sangat singkat, butuh waktu sangat panjang untuk bisa menangani masalah jakarta yang tak kunjung selesai.

Problem tersebut membuat warga selalu dihantui rasa tidak nyaman dan selalu waspada yang sewaktu-waktu bisa mengancam jiwa. Berikut 3 problem jakarta yang terparah yang butuh penanganan khusus apabila sudah terjadi.

1. Kemacetan

Kemacetan Jakarta

Hampir semua jalan di Jakarta mengalami kemacetan yang cukup padat membuat kita pusing, kesal, dan uring-uringan akibat kemacetan yang terjadi. Sebenarnya kemacetan itu disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pertambahan jumlah kendaraan dan pertambahan jumlah jalan dari tahun ke tahun.

Selama ini pertambahan jumlah kendaraan meningkat pesat sementara pertambahan jalan bisa dikatakan tidak ada pertambahan yang cukup untuk menampung kendaraan yang lewat. Selain masalah tersebut faktor yang turut berperan dalam kemacetan adalah banyak pengendara yang tidak disiplin dan tidak mematuhi peraturan berlalu lintas. Banyaknya pendatang yang mencoba mencari keuntungan sehingga penduduk DKI Jakarta yang semakin banyak akibat arus urbanisasi.

Beberapa usaha yang telah ditempuh oleh pemerintah DKI Jakarta untuk mengatasi kemacetan, seperti memberlakukan three in one pada jalan-jalan tertentu dan membangun transportasi Busway tetapi nampaknya usaha tersebut tetap saja tidak membuahkan hasil dalam mengatasi kemacetan. 
 
Khusus untuk busway, transportasi massal jenis ini memang sangat dibutuhkan, tapi bukan untuk mengatasi kemacetan, justru sebaliknya, karena jalan yang digunakan oleh busway tidak dibarengi dengan pelebaran jalan, sehingga jalan semakin sempit akibatnya makin menimbulkan kemacetan. Di samping itu masyarakat pengguna busway justru dimonopoli oleh masyarakat yang nota bene tidak memiliki kendaraan roda empat.

2. Banjir

Bundaran HI Terendam


Banjir merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di suatu kawasan yang banyak terutama kawasan dari aliran sungai. Secara sederhana banjir dapat didefinisikan sebagainya hadirnya air di suatu kawasan luas sehingga menutupi permukaan bumi kawasan tersebut. 

Fakta banjir musiman jakarta termasuk kiriman dari bogor membuat lumpuh Ibukota bahkan aktivitas kesibukan jadi terhenti semua secara total. Upaya pemerintah pun telah dilakukan namun sampai saat ini belum ada penyelesaian solusi yang bisa membuat banjir ini reda. Bencana terjadi memang bukan kehendak kita namun karena faktor tertentu sepertinya butuh waktu agar terselesaikan.

3. Kebakaran

Kebakaran Pemukiman

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana mencatat ada 1.008 musibah kebakaran di seluruh wilayah DKI Jakarta. Dibandingkan tahun lalu sebelumnya (2011), jumlah tersebut meningkat lebih besar. Ini berarti jakarta juga menjadi rawan bencana kebakaran selain dari ancaman banjir yang selalu datang setiap tahun.

"Posisi pertama ditempati oleh Wilayah Jakarta Timur dengan jumlah musibah sebanyak 258 kali, kedua Wilayah Jakarta Barat sejumlah 218 kali, ketiga Wilayah Jakarta Selatan 212 kali, keempat Wilayah Jakarta Utara sejumlah 196 kali, dan Wilayah Jakarta Pusat sejumlah 123 kali," kata Kepala Dinas Damkar dan PB, Paimin Napitupulu dalam konperensi pers di Gedung Damkar DKI Jakarta, Jl Zaenul Arifin, Tambora, Jakarta Pusat, Kamis (27/12/2012).

Dari 3 problem tersebut sebagai warga hanya bisa berharap dari pemerintah untuk penangan bencana apabila sudah terjadi. Meningkatkan kewaspadaan setiap saat karena bencana tiap saat bisa datang tanpa diduga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar