Pulang Kampung

Assalamualaikum.. :)
 
Sudah lama banget ya rasanya ngga posting di sini. Sekali posting, eh malah curhat. :)
Sebenarnya sih postingan ini ngga penting-penting amat, tetapi gegara pikiran ini yang pengen banget nulis sedari minggu yang lalu. Ini tentang aku, iya aku yang pulang kampung dari Yogyakarta menuju ke Lombok. Sudah sangat banyak planning yang mau dikerjakan di tanah kelahiran saya itu, tetapi seperti biasa ngga ada satupun yang berjalan mulus mungkin akibat dari ketidakmampuan saya untuk melihat dan menelaan lebih lanjut keadaan dan kondisi saat ini. Huh, itulah saya dengan rencana yang selalu gagal. Tidak menyalahkanmu oh Tuhan, tetapi ini salah saya sendiri.

Beli tiket, diawali dengan diskusi empat mata yang setiap hari saya selalu menanyakan ini itu ke si Erfan (namanya). Dari menanyakan kapan pulang sampai bagaiamana pembayaran SPP pun. Yah, kami memutuskan untuk pulang ya tanggal 14 Januari itu.
 
Dimulai dari pulangnya buru-buru banget, habis ujian berakhir. Saya memutuskan untuk berpulang ke Lombok, karena sangat ingin memanfaatkan waktu sebanyak mungkin di Lombok. Dan pada tanggal 14 Januari 2013, itu terjadi dan lancar-lancar saja. Tanpa Hujan loh, padahal akhir-akhir ini hujan begitu deras sampai Jogja masuk TV berita nasional. Malah ada niatan buat membatalkan keberangkatan.  Yah, saya emang beruntung perihal cuaca. Oiya, kegalauan tentang siapa yang akan mengantarkan saya ke PO-nya pun sudah terpecahkan. Untung ada si miminnya Double Click yang rela mengantar. Hahaha, terima kasih banyak dah.. :)

Lalu, keadaan berlanjut seperti saat saya pulang kampung beberapa bulan yang lalu. Selalu membosankan, dengan dua kali makan selama hampir dua hari. Saat dikapalpun begitu, harus menunggu dan menunggu. Yah, akibatnya saya hanya bisa tidur-tiduran doang. Penting?
Di bus itu, ketemu sama Agnes Monica. Eh, ngga ding. Sama teman SMP dulu banget, masih kenal sih, tapi saya lupa siapa namanya sampe sekarang.

Di perjalanan pun mendengar berita buruk dari rumah, bahwa akibat hujan deras yang mengguyur belakangan ini menyebabkan banjir yang besar. Memporakporandakan tembok pembatas rumah saya dan tetangganya, dan ibu saya menjadi korban tertimpanya reruntuhan itu. Terlebih lagi dibelakang rumah saya terdapat sungai. Serem banget ya kata-katanya. Tapi untunglah tak apa-apa, tak separah ibu kota tercinta.

Bukan tentang perjalanan pulang kampung itu lo ya yang saya mau ceritakan, tetapi kejadian setelahnya. Setelah sampe maksudnya. Diawali dengan menuruni bis itu, dan mengambil sebuah koper ukuran kecil dari bagasi bus itu.

"Loh kok tidak ada" pikir saya.

Lalu kernet alias kondekturnya pun mencoba mencarikan koper itu di dalam bis, dan ngga ada apa-apa selain koper besar banget milik teman SMP itu dan berbagai kardus titipan. Panik? Jelas lah, seekor koper yang isinya begitu penting lenyap digenggaman saya. Lalu saya menyuruh memeriksa lagi bagian bagasi bus itu, hanya tinggal sebuah koper kecil (ukurannya sama persis dengan seekor koper saya) dengan motif kotak-kotak coklat dengan gembok yang kecil. Itu bukan koper saya, ya jelas dong koper saya kan berwarna hitam dengan sedikit sentuhan mahakarya merah di depannya.

Tidak terasa hanya tinggal saya sendiri penumpang di bus itu dan sebuah koper (bukan seekor), dan si sopir dan kondekturnya memutuskan bahwa koper saya dibawa oleh orang lain alias ketukar. Kebayang ngga sih, koper yang sangat amat negitu penting itu ditukar entah sengaja atau keteledoran yang membuat kerugian kepada saya sendiri. Bapak saya yang masuk ke bis pun, marah ke saya. Sudah kehilangan koper eh malah dimarahin, rasanya capek itu menjadi hasil dari kuadratnya.

Sengaja ditukar atau ke-human error an penumpang lain. Entahlah.
Dan dengan bijaksana dan lapang dada, saya memutuskan untuk memberikan nomor hape 507 saya ke kondekturnya. Dia pun memberikan nomor teleponnya yang entah siapa namanya tak terlihat jelas di sobekan lembaran itu. Ciee, tukeran nomor hape. Bukan, bukan, saya tukeran nomor hape itu untuk mengantisipasi siapa tahu (siapa yang tahu?) si pemilik sebuah koper itu pergi menukarkan koper yang salah ia bawa. Berharap. Saya juga disuruh membawa koper  orang itu tetapi saya menolaknya dengan pertimbangan bahwa suatu saat ketika seseorang mencari kopernya langsung dapat mengambil di PO nya tanpa harus menunggu saya untuk mengantarkannya. Cerdas kan? Pemikiran saya kalo isi kopernya penting, pasti si Human Error bakalan mencari kopernya lagi.

Di perjalanan pulang, dengan mengendarai sehelai mobil kami memutuskan untuk makan disebuah lesehan di bilangan Bintaro Jakarta Selatan (baca : Ampenan, Mataram). Sesampainya di rumah, ya begitu disambut dengan ramah dan sebagainya.

Kalian pasti penasaran dengan isi koper itu (Ngga tuh!). Dibilang ngga penting penting amat, dibilang penting sedikit penting sih. Intinya isinya itu penting banget seiring dengan ingatan akan benda penting apa didalamnya secara satu per satu. Di sana ada, baju kebesaran FOSPAST (Jelas Penting!). Ada baju SO7 #sabotaseiradio gueh yang didapatkan dari mengetik SMS dengan format JOGNamaUmurJawaban Quiz lalu kirim ke nomor 081XXXXXX887 dengan CD SO7 milik si dia. Oleh-oleh, cuman bakpia patok doang. Dan semua baju dilemari kos yang entah kenapa kok saya bawa semua ya. Apa yang saya pakai kuliah entar?

Hari-hari pun berlalu dengan memakai baju yang untung saja terdapat seonggok di dalam tas, kegalauan pun semakin bertambah seiiring mengingat koper itu. Setiap malam ngga bisa tidur, pasti keingat terkoper. Sesekali menelpon si sopir, dan belum ditemukan. Pengen banget cerita ke si "itu", tetap saya kan sudah merahasiakan ini darinya sedari awal. Sesekali saya juga ditelepon oleh si sopir, menanyakan keadaan koper saya. Angin segar sih, terlebih lagi ia tak berniat menipu saya. Di sepanjang hari, jika saya mengingat perihal koper saya pasti mengumpat si penukar. Bikin dosa makin banyak saja. Dan penyesalan pulang kampung pun bertambah besar.

Rahasia? Kok bisa? Begini lo ceritanya, saya itu berniat pas pulang nanti menjemput dia di kampusnya pas keesokan harinya setelah sesampainya saya di Lombok. Bisa dibilang itu surprise atau kejutan, tetapi saya tak memperhitungkan dengan apa saya kesana. Terlebih lagi saya baru tau kalo bapak saya sudah tak lagi mengajar di depan rumah, tetapi telah dipindah tugaskan ke sekolah yang lebih jauh. Otomatis membutuhkan kendaraan, Beliau pun memakai Supra SMA saya. Dan motor yang ber-plat 507 dipakai oleh kakak saya bekerja. Hanya tertinggal beberapa vespa yang dikoleksi kakak saya, emang saya bisa pake? Ya jadinya hanya bisa menunggu pulang saja. Itu terjadi sampai satu minggu. Bayangkan!

Pertama kali ke Selong (Ibu kota Kabupaten Lombok Timur), sepanjang perjalanan ke Selong terdapat banyak sekali yang berubah dimulai dari terdapat gedung-gedung baru dan sebagainya. Tetapi dari itu semua, satu hal yang bikin saya menganga yaitu Selong sekarang menerapkan sistem satu jalur. Di perempatan, saya mau belok kanan saya bingung kok hanya saya sendiri yang belok ke kanan, dan ternyata saya salah. Untung tak ditilang. Dan itupun sukses membuat saya heran (bukan takjub). Itu artinya, jika kita mau memutar arah harus ke jalan yang lain. Bensin!

Tanggal 18 Januari 2013. Saya mengangkat telepon dari PO bus nya. Di sana terdapat beberapa pesan dan panggilan tak terjawab. KABAR GEMBIRA. Si costumer service dari PO Bus itu mengabarkan bahwa humen error (begitu saya memanggilnya) mengaku bahwa koper yang iya bawa itu salah dan tertukar maksudnya. Saya jingkrak-jingkrak tanda kesenangan. Serta menanyakan kapan saya bisa mengambilnya, "insyaALLAH besok" jawab saya. Pokoknya saya gembira! Keesokan harinya saya mengambil seekor koper itu.

Suatu hari, saya berniat menjemputnya dan itu berhasil. Dag dig dug hatiku, dag dig dug hatiku, dag dig dug hatiku.. uuu.. uuu.. Suwer deh, degub jantungku rasanya mau meledak. Yah ketemu pertama kalinya deh, langsung saya disuruh nganter ke penjual tempura. Secara akhir-akhir ini ia doyan banget!

Beberapa hari setelahnya. Berbagai rencana bersamanya gagal. Ia sempat marah kepada saya karena saya merahasiakan kepulangan saya itu, sempat juga sih ia berpikir bahwa setidakpenting itukah ia dimata saya. SMS nya pun dibalas hanya denga yaa dan ngga. Saya kan hanya ingin ngasi kejutan, itu saja. Tetapi, itu hanya berlangsung beberapa hari saja dan setelah baksos bersama ya itu sudah menetralkan perang dingin diantara kita. AMAN!

Satu hal yang bikin saya takjub, kok bisa ya saya tahan untuk tidak update status tentang perjalanan pulang kampung itu. Herman deh.

Udah deh ya, hanya itu doang sih yang bisa saya ceritakan. Spesial sih ngga, tetapi ini cerita buat pengklarifikasian doang. Maaf ya jika kepanjangan, walaupun sebenarnya lebih panjang dari ini. Dan sekarang rasanya saya malas sekali untuk balik ke Jogja. Entah karena makannya di sini teratur atau ingin lebih lama bersamanya. :)

Terima Kasih telah membaca.. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar